

« Ketika breadtalk hadir di Medan | Home | Fenomena Youtube »
Rendah hati mencerminkan kebesaran jiwa seseorang
By Rudy Susanto | June 3, 2007
Di awal bulan juni ini, ada satu peristiwa suci yang di peringati oleh umat Buddhis, yaitu peringatan tri suci Waisak. Tahun ini, perayaan Waisak kali ini terasa berbeda bagi saya, karena untuk pertama kalinya saya ikut kebaktian Waisak di Medan.
Seperti umat lainnya, sejak pagi saya sudah berada di komplek Vihara persinya di
Vihara Borobudur. Dari semua sesi kebaktian yang berlangsung, saya menemukan ada 2 prosesi acara yang sangat special, yaitu sesi acara membawa lilin, dan sesi liam keng sambil bersujud (bernamaskara).
Untuk masalah bersujud (bernamaskara), mungkin banyak orang yang beranggapan ritual seperti ini adalah menyembah berhala (atau menyembah patung). Tapi saya memiliki pengertian tersendiri tentang bersujud. Memang di ritual tersebut, kita bersujud menghadap patung rupang Budha, tapi pengertiannya jelas bukan untuk menyembah patung, melainkan untuk melatih kerendahan hati kita.
Rendah hati atau humble, mencerminkan sikap tidak sombong, dan bersedia untuk mengakui kehebatan orang lain. Dengan adanya sikap rendah hati, kita bisa mengikis rasa ego kita, dan mau belajar dari orang lain. Ujung- ujungnya, semua itu menentukan seberapa besar jiwa kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melatih sikap rendah hati kita dengan cara: menyapa orang sebelum disapa, tersenyum sebelum orang senyum pada kita, sering mengucapkan dua kata sakti “Terima Kasih”, dan “Tolong”. Rendah hati juga menyangkut kesediaan untuk diajar, dan mengajar orang lain. Seberapa sering kita mempraktekkan sikap rendah hati, itulah yang akan menentukan jiwa kita sesungguhnya.
Popularity: 1% [?]
Related Posts
- Pengguna internet Indonesia akan tembus 50 juta jiwa
- Jarang diupdate, situs melorot di search engine
- Dawn Yong Blogger seksi dari singapore
- Foto Ayu Anjani dan Sandra Dewi laku keras
- Situs tukularwana.com dijual
Topics: My Life |

Mmg Waisak tahun 2007 ini luar biasa banyak umat yang melakukan kebaktian dan ritual, khususnya di kota medan ini. Saya sendiri melihat perkembangan kesadaran umat buddhis di kota medan ini dari tahun ke tahun semakin menyadari perlunya pendekatan pada Tri Ratna dan semua umat buddha khususnya medan uda mulai kembali ke jalan buddha dharma, terlihat pada che it cap go, banyak sekali umat budhis mulai dari kalangan anak kecil sampai ke orang tua, semua pada vegetarian dan liam keng di vihara terdekat serta ada yang menjalankan Uposatha Sila ( Tidak makan setelah jam 12 Siang ).
Saya sangat setuju sekali dengan pendapat Rudy Susanto tentang melatih sikap rendah hati kita. Itulah ssungguhnya dari ajaran Buddha, agar kita hidup sederhana, rendah hati, dan ehipasiko.